Sukurlah, Akhirnya Jalan ke SDN Kadirojo Diperbaiki Juga

Sukurlah, Akhirnya Jalan ke SDN Kadirojo Diperbaiki Juga


Kabarmerahputih.net – Penantian panjang warga menunggu perbaikan kerusakan jalan di sepanjang depan Sekolah Dasar Negeri (SDN) Kadirojo di Desa Margorejo Kecamatan Tempel berakhir. Jalan yang rusak parah ini akhirnya diperbaiki.

“Kalau jalan milik kabupaten kami wajib memeliharanya untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan seperti kecelakaan. Itu kita pakai alokasi anggaran pemeliharaan jalan dari APBD,” jelas Kepala Dinas  PUPKP Sleman Ir Sapto Winarno MT, belum lama ini.

Akan tetapi, menurut dia, pada situasi tertentu dan insidentil pekerjaan pemeliharaan jalan tetap dilakukan mesti di luar wilayah kewenangan.

”Seperti di Jalan Gito-gati kemarin ada lubang padahal itu statusnya merupakan jalan provinsi. Setelah menunggu karena belum ada kejelasan akhirnya kita kerahkan tim untuk segera menambal, begitu pula di jalan desa, kalau ada permintaan desa pasti akan kita kerjakan,” katanya seperti dikutip Warta Konstruksi.

Jiyono salah satu pekerja mengungkapkan, panjang jalan yang dikerjakan mencapai 400 meter dengan melibatkan 7 orang pekerja dengan mengerahkan alat pemadat lapisan aspal dan satu unit truk.

”Kita kerjakan mulai ujung depan sekolahan hingga jembatan. Hanya nambal-nambal saja, yang masih bagus kami tinggalkan, panjangnya sekitar 400 meter dan dikerjakan sejak hari Rabu (7/11/2018). Setahu saya baru sekarang di sini ada pemeliharaan jalan,” terangnya.

Ny Srinarno (49), salah pemilik warung yang letaknya tidak jauh dari SDN Kadirijo mengaku cukup senang lantaran keinginanya terkabul. ”Seneng banget, jalan akhirnya diperbaiki. Tadinya sering ada kerikil terlembar kena warung saya pada saat ada kendaraan melintas,” katanya. (*)


Read More
Kado Istimewa Buat 4 Gajah di Ulang Tahun ke-65 GL Zoo

Kado Istimewa Buat 4 Gajah di Ulang Tahun ke-65 GL Zoo


Empat gajah GL Zoo mendapat kado istimewa pada HUT ke-65 kebun binatang setempat. Kado istimewa diberikan usai upacara di halaman GL Zoo, Sabtu. Foto: Sodik

Kabarmerahputih.net - Empat gajah koleksi Gembira Loka Zoo (GL Zoo) Yogyakarta mendapat kado istimewa berupa tumpeng buah-buah segar, saat kebun binatang setempat berulang tahun ke- 65, Sabtu (10/11/2018).

Empat gajah yang ditampilkan dalam peringatan HUT GL Zoo kali ini adalah gajah bernama Subaya, Gilang, Sinta dan Saiji. Acara menarik yang digelar di halaman pintu masuk pengunjung pagi itu disaksikan sejumlah pengunjung yang  siap masuk  berwisata di GL Zoo.

Tak hanya pejabat dan karyawan GL Zoo yang memberi pakan tumpeng buah, tapi  sejumlah pengunjung juga  berkesempatan memberi pakan buah dari tumpeng  yang disediakan.

Direktur Utama GL Zoo, KMT A. Tirtodiprojo mengatakan, tumpeng buah-buahan untuk gajah merupakan bagian dari ultah GL Zoo. “Saat GL Zoo ulang tahun, beberapa satwanya juga  kami berikan menu aneka ragam pakan supaya tidak bosan,” tutur pria yang akrab disapa Joko Tirtono ini.

Menurutnya, menandai era modern pengelolaan kebun binatang perlunya meningkatkan kesejahteraan satwa. “Tidak sekadar memberi pakan, tapi juga gizi cukup. GL Zoo bertekad lolos penilaian akreditasi  tingkat Asia (SEAZA) tentang kesejahteraan satwa (animal walfare) pada 2020 mendatang,” pungkasnya. (*)


Read More
Kemeriahan Gathering Keluarga Besar GL Zoo

Kemeriahan Gathering Keluarga Besar GL Zoo


Kabarmerahputih.net - Keluarga Besar Gembira Loka Zoo (GL Zoo) menggelar gathering di halaman panggung kebun binatang setempat. Acara diselenggarakan dalam rangka Peringatan HUT GL Zoo ke-65 ini dilaksanakan pada Jumat (9/11/2018).

Diawali dengan jalan sehat diikuti seluruh karyawan, dilanjutkan dengan berbagai lomba seperti lomba joget dangdut antardepartemen, lomba kreasi enrichment satwa, dan lomba eksebisi voli dengan bola mainan.

Acara gathering diikuti ratusan karyawan GL Zoo, dimeriahkan dengan dangdut. Dalam kesempatan itu dibagikan pula hadiah kepada para juara futsal dan bulu tangkis. Ratusan doorprize menarik dari mie instan, souvenir gelas, perkakas rumah tangga hingga sepeda gunung, televisi dan kulkas juga dibagikan kepada  karyawan kebun binatang setempat yang beruntung. (*)


Read More
Duh, di Bantul Banyak Rumah Program BSPS Belum Layak

Duh, di Bantul Banyak Rumah Program BSPS Belum Layak


 Rumah milik Paniyem, salah satu penerima bantuan program BSPS, tidak memiliki ventilasi. Foto: Dok WK

Kabarmerahputih – Seperti di kabupaten lain di DIY, pekerjaan fisik pembangunan rumah melalui program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) di Kabupaten Bantul, juga selesai dilakukan. Kemarin, tim SNVT Peyediaan Perumahan bersama Tim TP4D Kejaksaan Tinggi melakukan peninjauan lokasi.

Secara keseluruhan ada tujuh rumah yang didatangi tim. Dari tujuh rumah itu, masih ada beberapa rumah yang belum selesai 100 persen. Ada pula yang sudah jadi namun dianggap belum layak karena minimnya ventilasi, bahkan ada pula yang tidak ada ventilasinya.

Terkait penghawaan atau ventilasinya kurang terdapat di rumah Paniyem, Sukamto, dan Ivan. "Apa di Desa Patalan ini warganya suka gelap-gelap dan pengap ya? Dari tadi banyak rumah yang penghawaannya kurang layak," ujar Agus Sugiharto dari tim TP4D Kejati DIY seperti dilansir wartakonstruksi.com.

Menurutnya, rumah yang layak harus memiliki pencahayaan dan penghawaan yang standar. Yakni harus ada ventilasinya udara dan jendela banyak, tidak hanya satu. Ia menyebut, di rumah Paniyem, penghawaan dan pencahayaannya sangatlah kurang. Di rumah itu, hanya ada satu jendela dan tidak ada ventilasi. 

Di rumah Sukamto, kata dia, selain ventilasi, rumah tersebut juga sangat disarankan untuk membuat pintu kamar mandi yang layak. Sebab, jika ada yang buang air, pasti akan terlihat dari arah belakang rumah. 

Sementara di rumah Ivan, bangunannya terlihat bagus, kokoh, dan penuh seni. Akan tetapi, Agus menganggap rumah itu juga kurang dari sisi penghawaan. Meskipun terlihat ada ventilasi, namun ventilasi tersebut tertutup sehingga tidak berfungsi sama sekali selain hanya sebagai aksesoris. 

"Rumahnya terlihat seni, tapi ventilasinya tertutup itu. Penghawaannya kurang, harus dibuka itu ventilasinya, apalagi jendelanya juga tertutup," pinta Agus.

Salah satu fasilitator lapangan, Adit menjelaskan, rumah-rumah tersebut memang kurang layak dari sisi penghawaan. Dia mengaku, pihaknya sudah menyosialisasikan terkait syarat-syarat rumah yang layak, namun praktik pembangunannya tergantung tukang yang mengerjakan.

"Kalau yang rumah Mbah Paniyem itu kami gak bisa memantau terus, karena kami juga memantau rumah yang lain. Biasanya yang datang ke rapat itu anaknya, karena Mbah Paniyem sudah tua. Yang memilih tukang ya anaknya dan hasilnya memang kurang bagus, ventilasinya tidak ada," kata Adit.

Di Desa Patalan terdapat 20 warga penerima bantuan program BSPS 2018. Mereka diberi bantuan sebanyak Rp 15 juta, rinciannya 12,5 juta untuk material dan 2,5 juta untuk ongkos tukang. Selebihnya, warga yang digarap secara swadaya. (*)


Read More
Faktor Pencemaran Lingkungan KJA Hanya 10%

Faktor Pencemaran Lingkungan KJA Hanya 10%


 
Kabarmerahputih.net - Usaha Keramba Jaring Apung (KJA) selama ini selalu dikambinghitamkan untuk urusan pencemaran lingkungan. Keberadaan KJA di perairan tergenang dinilai penyebab utama kejadian matinya ikan secara massal.

“Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang menyatakan hal itu tidak benar. Bahkan KJA sebagai faktor pencemaran lingkungan hanya sebesar 10%, 90% lainnya karena berbagai faktor lain yang bahkan tanpa disadari justru turut merugikan usaha KJA. Misalnya, pembuangan limbah yang bermuara ke danau atau waduk,” ujar Sekretaris jenderal Masyarakat Akuakultur Indonesia Agung Sudaryono, Jumat (26/10/2018).

Di sela pelaksanaan Diskusi KJA di Hotel Grand Dafam Yogyakarta, Agung menuturkan, pakan ikan yang dituding sebagai penyebab pencemaran air, nyatanya bukan menjadi penyebab utama. Ke depannya, MAI pun menegaskan siap ditata dan dibina, sehingga KJA bisa lebih ramah lingkungan.

“Karena kami menyadari KJA memiliki potensi yang besar. Tak hanya yang bersangkutan dengan perekonomian dan penyerapan tenaga kerja saja, KJA juga memiliki potensi untuk mendukung sektor pariwisata. Hal ini sudah terlihat di waduk Gajah Mungkur di Wonogiri, Jawa Tengah,” paparnya.

Berbagai tuduhan pencemaran lingkungan pun diakui Agung telah menyebabkan kerugian bagi para pelaku usaha KJA. Hal ini mulai terasa sejak sejumlah pemerintah daerah melakukan kajian ulang untuk pengurangan jumlah KJA di waduk dan danau di wilayahnya masing-masing.

“Karena dampak ekonominya besar, pengurangan jumlah KJA cukup menimbulkan guncangan sosial ekonomi berupa pengangguran massal. Untuk itu, melalui diskusi ini, kami ingin menjelaskan dan membuka mata banyak pihak, kalau sebenarnya bukan kami penyebab pencemaran lingkungan tertinggi,” tegasnya.

Sementara itu, Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran Yudi Nurul Ihsan membenarkan kecilnya faktor KJA menjadi penyebab kematian ikan massal. Tuduhan tersebut bahkan dinilainya sangat merugikan akuakultur atau budaya perairan yang selama ini sudah berkembang di tengah masyarakat.

“Kematian massal ikan di danau atau waduk biasanya karena zat logam berat atau bisa pula kandungan amonia yang tinggi. Ini yang harus diketahui agar dilakukan penanganan yang komperhensif. Selain itu, untuk memajukan akuakultur perlu pula dukungan berupa kebijakan pemerintah baik pusat maupun daerah,” paparnya. (Ratih Keswara)
Read More