Koptu Kodik: Menyergap Musuh di Kebun Coklat

UDARA pagi di hutan belantara wilayah Idirayeuk, Nanggroe Aceh Darusalam (NAD) begitu dingin menusuk tulang. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh namun sinar mentari masih tertutup kabut. Embun yang mulai mencair tersisa disejumlah daun-daun. Jalanan setapak juga sangat licin akibat hujan deras sejak sore hingga menjelang Subuh.

Kopral Satu (Koptu) Kodik bersama 4 rekannya yang saat itu tengah melaksanakan misi tugas operasi pemulihan keamanan sekaligus pencarian terhadap anggota gerombolan sparatis Gerakan Aceh Merdeka (GAM) sudah bersiap melanjutkan penyisiran memburu keberadaan kelompok GAM. Kendati pakaian (seragam) dinas lapangan yang menempel di badan masih basah, tak serta-merta menyurutkan nyali.

“Sejak petang hingga menjelang pagi hujan tak kunjung reda. Meski kami sudah mendirikan bifak, toh tetap basah kuyup. Usai membuat kopi dan sarapan tim kecil kami segera beranjak melakukan pencarian keberadaan mereka (GAM),” terang Koptu Kodim kepada KMP belum lama ini.

Senjata laras panjang, rompi anti peluru berikut helm baja sudah menempel di badan. Koptu Kodik dan rekannya berjalan beriringan menyusuri lincinnya jalan dengan perlahan. Tatapan mata mereka tajam menyapu setiap jengkal lingkungan yang dilalui.

Menjelang tengah hari, sinar matahari mulai menyeruak melalui celah-celah ranting pohon membuat pakaian yang dikenakannya sedikit demi sedikit mengering. Sekitar 8 jam perjalanan dan kondisi aman, tak menemukan adanya kejanggalan akan keberadaan musuh, tim Koptu Kodik memutuskan untuk rehat. Menu siap santap yang menjadi logistik satuan khusus (Kopassus) pun menjadi makanan pokok selama berada di hutan (medan tempur).

“Hampir 8 jam kami berjalan menyusuri bukit, hutan dan rawa tak juga menemui tanda-tanda keberadaan musuh (GAM). Tapi kami tidak menyerah, usai melepas lelah selama 1 jam, saya dan teman lainnya melanjutkan pencarian,” sambung Koptu Kodik.

Pencarian tahap berikutnya ternyata membawa keberuntungan bagi tim Koptu Kodik. Baru 2 jam berjalan, saat melintasi perkebunan coklat, mata Koptu Kodik menangkap kelebatan 2 orang.

“Berhenti…! Arahkan pandangan tepat pukul 3..!” kata Koptu Kodik kepada teman-temannya.

Begitu seluruh pandangan mata mengarah ke sisi kanan, tampak 5 orang dengan mengenakan sarung yang diselempangkan tengah bercakap-cakap. Dua di antaranya menenteng senjata AK-47. Sedangkan yang lain tampaknya hanya membawa pistol, karena dari balik pinggangnya menyembul gagang pistol.

Kemampuan Koptu Kodik sebagai prajurit satuan khusus, dengan kelebihannya sebagai prajurit penimbul situasi (Bulsi), situasi seperti itu degan cepat dikuasainya. Ia segera bergerak melambung ke sisi kiri kemudian memutar mendekati target sasaran. Demikian halnya rekannya yang lain. Kini, musuh sudah terkepung dari segala posisi.

“Lempar senjata, jongkok dan tangan di atas kepala…! Kami TNI, kami tak ingin ada korban…!!” teriak Koptu Kodik.

Musuh kaget bukan kepalang. Seorang di antaranya yang hendak melepaskan tembakan spontan mendapat tendangan memutar secara cepat dari Koptu Kodik dan terjengkang seketika. Melihat kemampuan tentara tersebut, musuh memilih menyerah baik-baik. Sehingga, tak ada korban pertumpahan darah.

“Kami selalu upayakan tindakan persuasif dulu. Jika mereka menyerah dan bisa kita bina maka itu yang kami harapkan. Jika justru melawan dan membahayakan keselamatan kami, mau tak mau kami harus siap tempur,” pungkas Koptu Kodik.  (KMP-1)


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Koptu Kodik: Menyergap Musuh di Kebun Coklat"

Posting Komentar