Wiranto : Alumni UIN Suka Harus Berjiwa Pancasilais


Sleman (KMP) - Akhir-akhir ini gerakan anti Pancasila semakin mencolok karena dipicu oleh perkembangan teknologi informasi. Untuk menghindari perpecahan bangsa Indonesia, pendidikan bela negara dan Pancasila perlu diintensifkan.

Hal tersebut diungkapkan Menkopolhukam Jenderal (Purn) TNI Wiranto usai melantik Pengurus Pusat Studi Pancasila dan Bela Negara UIN Sunan Kalijaga masa khidmat 2017-2018, Rabu (9/8) sore. Menurutnya, pemahaman akan ideologi Pancasila saat ini, utamanya generasi muda sangat minim.

"Membangun kembali kesadaran masyarakat tentang ideologi Pancasila harus diperkuat secepat mungkin. Kalau tidak segera, Indonesia akan semakin digerus ancaman yang membahayakan, yang justru datang dari dalam, seperti narkoba, terorisme, radikalisme, konflik masyarakat dengan aparat," ujarnya.

Dikatakan Wiranto, ancaman-ancaman tersebut bisa meruntuhkan bangsa dan negara Indonesia. Sayangnya, masih banyak masyarakat yang mengganggapnya hanya sebagai dinamika kehidupan. Karena itu, semua pihak harus bersinergi untuk mendesain pendidikan bela negara dan Pancasila secara efektif untuk mengikis ancaman dari dalam itu.

"Ada tiga hal penyadaran dan pemahaman yang harus segera tertanam di hati sanubari seluruh masyarakat Indonesia. Pertama, melu handarbeni (merasa memiliki), hangrungkepi (membela Indonesia dari berbagai ancaman) dan mulat sariro hanggroso wani (rela berkorban untuk NKRI tetap utuh). Kalau tiga hal itu bisa meresap di hati sanubari masyarakat Indonesia, diajak menghancurkan NKRI pasti tidak mau," ungkapnya.

Wiranto pun berharap, melalui Pusat Studi Pancasila dan Bela Negara yang didirikan di UIN Sunan Kalijaga, bisa mendidik secara simultan, melalui pembiasaan-pembiasaan dalam pembelajaran dan perkuliahan di kampus. Perlu ada pembiasaan penerapan sikap-sikap yang Pancasilais yang terus menerus sampai lulus, sehingga jiwa Pancasilais dan kesadaran bela negara sudah merasuk ke hati sanubari alumni UIN Sunan Kalijaga. 

Rektor UIN Sunan Kalijaga Prof Yudian Wahyudi MA PhD menyampaikan, keinginan segelintir umat Islam yang ingin mengganti NKRI dengan Negara Khilafah salah besar. Hal itu justru bisa menghancurkan kebinnekaan Indonesia yang merupakan kekayaan yang tidak terhingga nilainya dan tidak dimiliki bangsa-bangsa lain.

"Khilafah juga akan menghancurkan umat Islam sendiri. Di dalam Al Qur'an juga tidak satu ayatpun yang menyebut tentang Khilafah. Jadi Khilafah tidak diperlukan di Indonesia. Indonesia hanya butuh Khalifah-Khalifah, yakni para pemimpin yang pakar di bidangnya masing-masing untuk bersatu menjadikan NKRI ini maju dan kuat," imbuhnya. (KMP-7)


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Wiranto : Alumni UIN Suka Harus Berjiwa Pancasilais"

Posting Komentar