Keren, Mahasiswa UII Buat Inovasi Walker Chair untuk Anak Autis


Sleman (KMP) - Empat mahasiswa Prodi Teknik Industri Universitas Islam Indonesia (UII) berhasil membuat inovasi walker chair sebagai alat bantu khusus bagi anak autis. Kursi tersebut mereka rancang bagi anak autis tipe Childhood Disintegrative Disorder (CDD).

Mereka adalah Nazula Rukhiana M, Febidhea Ayu Muflihah, Aprilia Putri Lestari dan Indah Purnama Sari. Diungkapkan Nazula, saat ditemui Selasa (21/11/2017) di Dekanat FTI UII, penelitian pembuatan alat bantu tersebut dilakukan karena latar belakang ketersediaan fasilitas para disabilitas atau warga berkebutuhan khusus saat ini.

"Pada umumnya di Indonesia, fasilitas yang ada kebanyakan untuk disabilitas seperti tuna netra, tuna rungu dan tuna daksa. Belum ada untuk anak autis, padahal mereka juga butuh fasilitas yang bahkan berbeda dengan disabilitas lainnya. Tipe autis pun beda-beda, dan kami menyasar tipe CDD yang memang memiliki gejala tambahan dibanding tipe autis lainnya," ungkapnya.

Nazula menjelaskan, pada umumnya anak-anak autis yang mengalami gejala CDD ini ada yang sangat hiperaktif. Tapi ada juga yang mengalami gangguan mental sehingga saraf motorik mereka terganggu dan membuat mereka kesulitan untuk bergerak. Biasanya anak autis tipe CDD hanya di tempatkan di kursi roda biasa yang membuat mereka tidak nyaman.

"Untuk itu, alat bantu inilah yang kami buat. Selain sebagai penyangga posisi duduk bagi penderita, alat ini juga kami buat sebagai alat bantu terapi. Didesain layaknya baby walker, kami inovasikan dengan berbagai permainan yang bisa merangsang motorik anak," jelasnya.

Nazula menambahkan, anak autis tipe CDD awalnya normal saja sejak lahir dan tumbuh hingga usia 2 tahun. Namun di tahun ketiga, anak baru akan tampak mengalami kelainan pada kehidupan sosialnya. Dan fungsi motorik pun mulai hilang. Dengan menggunakan walker chair buatan mereka, diharapkan bisa dilakukan terapi untuk mengembalikan fungsi motorik anak.

"Dalam pengembangan alat ini, kami cukup kesulitan karena di Indonesia sendiri belum ada kasus autis CDD. Akhirnya saya justru menjalin kontak dengan Prof Andrew G dari London, Inggris. Melalui beliau, saya pun bisa masuk ke komunitas orang tua dengan anak autis CDD yang ada di London. Dari sanalah banyak masukan yang kami dapatkan," paparnya.

Indah pun menuturkan, walker chair buatan mereka memang serupa tapi tak sama dengan baby walker yang ada dipasaran. Jika baby walker umumnya diperuntukkan bagi bayi usia 6 bulan hingga 1 tahun, walker chair buatan mereka justru didesain untuk anak usia 3-5 tahun. Alat tersebut juga dilengkapi rem, sehingga lebih aman saat digunakan.

"Harapannya, hasil penelitian berupa alat bantu ini dapat mempermudah orang tua dalam memperhatikan anak-anak autis tipe CDD mereka jika sedang berpergian. Dengan desain yang portable, mudah di lipat dan di bawa kemana-mana ini, kami harap juga dapat mempermudah penggunaannya," imbuhnya. (Ratih Keswara)


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Keren, Mahasiswa UII Buat Inovasi Walker Chair untuk Anak Autis "

Posting Komentar