Alvin Sahroni PhD: Analisa Aktivitas Otak Tentukan Penanganan Tepat Anak Autis

SLEMAN (KMP) - Meski belum ada data akurat terkait penderita autis, namun telah diprediksi jumlahnya di dunia makin meningkat, termasuk di Indonesia. Hal tersebut pun mendapat perhatian khusus dari Dosen Prodi Teknik Elektro Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (UII) Alvin Sahroni PhD.

Menurut Alvin, dari data yang diperolehnya, jumlah penderita autis di Indonesia pada tahun 1990-an diperkirakan ada satu dari 5.000 anak. Namun di tahun 2000, angka perkiraan berubah menjadi satu per 500 anak. Dan pada 2015, perkiraan penderita autis bahkan menjadi satu per 250 anak.

"Tahun 2015, diperkirakan ada kurang lebih 12.800 anak penyandang autisme atau 134.000 penyandang spektrum autis di Indonesia. Dan jumlah ini terus mengalami peningkatan luar biasa. Karena itulah sejak tiga tahun lalu, saya memulai penelitian tentang aktivitas otak pada anak autis," ungkap Alvin, Kamis (7/12/2017).

Ditemui di ruang Dekanat FTI UII, Alvin mengaku, keinginannya melakukan penelitian tersebut juga dikarenakan dua dari tiga anaknya telah divonis autis. Dalam penelitiannya, ia memproses sinyal elektris pada otak anak autis dengan menggunakan elektroensefalogram (EEG). Proses itu dilakukan pada 10 anak normal dan 10 anak autis saat mereka dalam keadaan tertidur akibat tersedasi selama 10-15menit.

"Selama proses, saya menggunakan Sedasi Chloral Hydrate untuk membantu menidurkan anak. Karena pada dasarnya, jika tidak dilakukan dalam kondisi tidur, saya mengalami kendala karena anak autis kurang kooperatif. Sehingga dari segi klinis, bantuan sedasi ini lebih untuk mengatasi masalah perilaku anak autis yang kurang kooperatif," jelasnya.

Alvin mengungkapkan, pada analisa sinyal EEG yang dilakukannya, ditemukan kenyataan yang cukup mencengangkan. Jika aktivitas otak saat tertidur pada anak normal mengalami penurunan, berbeda dengan aktivitas otak anak autis. Pada saat tertidur pun tampak adanya aktivitas yang berlebihan di bagian otak depan anak autis. Bahkan sangat tampak adanya sel syarat yang bekerja sporadis, setta cenderung sangat aktif.

"Dan selama penelitian, saya pun mengetahui otak anak autis mengalami perkembangan yang tidak normal. Jika otak anak normal berkembang secara terstruktur, otak anak autis berkembang tanpa ada pola. Pada bagian ini bagi saya cukup terenyuh karena membayangkan bagaimana otak dua anak saya berkembang tidak normal," ungkapnya.

Alvin mengungkapkan, aktivitas yang tinggi pada otak depan sangat berkaitan dengan faktor kognitif. Sehingga ia pun berkesimpulan bahwa kelainan otak anak autis masih dapat terdeteksi walaupun dalam keadaan tertidur. Karena itulah sedasi dapat digunakan sebagai deteksi awal pada anak kecil yang belum kooperatif dan dimungkinkan diaplikasikan pada ranah klinis.

"Saya yakin dengan cara analisa sinyal EEG ini kita bisa semakin dini melakukan deteksi awal autisme. Harapannya, semakin dini deteksi dilakukan, pengobatan pun bisa semakin cepat dan tepat. Pada akhirnya peluang sembuh anak autis semakin besar," imbuhnya.

Dikatakan Alvin, sudah cukup banyak contoh anak autis yang bisa benar-benar sembuh. Hal itu sangat mungkin jika pola autis dengan sempurna diketahui sejak awal, sehingga penanganan pun dilakukan dengan tepat sebelum anak usia 6 tahun, dimana merupakan usia perkembangan otak telah selesai.

"Saya pribadi sangat yakin dengan cara ini kita bisa dengan cepat mendeteksi autisme pada anak. Karena itu, cara ini seharusnya bisa masuk menjadi salah satu instrumen klinis dalam mendiagnosa autisme. Sayangnya, secara internasional sudah ada susunan instrumen pendeteksian autisme yang dibakukan. Dan cara analisa sinyal EEG ini belum masuk di dalamnya," katanya.

Dengan penelitiannya tersebut, Alvin pun berhasil meraih gelar Doctor of Philosophy dari Computer Science and Electrical Engineering Department Kumamoto University, Jepang. (Ratih Keswara)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Alvin Sahroni PhD: Analisa Aktivitas Otak Tentukan Penanganan Tepat Anak Autis "

Posting Komentar