Johan Salim Divonis 10 Bulan Penjara, Pengacara Curigai Ada Sesuatu


SLEMAN (KMP) – Johan Salim, 50, terdakwa penipuan pembelian kaca dan triplek divonis penjara 10 bulan. Vonis dijatuhkan dalam sidang putusan di Pengadilan Negeri (PN) Sleman, Senin (18/12/2017). Yang menarik, terdakwa divonis dengan pasal di luar yang dituntut Jaksa Penuntut Umum (JPU).

“Dipidana dengan pidana penjara selama 10 bulan dipotong masa penahanan, karena terbukti melakukan tindak pidana penipuan dengan telah menerima barang, sesuai pasal 372 KUHP,” ucap Hakim Ketua Aries Sholeh Efendi SH ketika membacakan amar putusan seperti dikutip Wartahukum.id.

Menurut Hakim, ada pertimbangan yang meringankan karena terdakwa belum pernah dihukum. ”Pernah juga ada permintaan maaf terdakwa kepada para saksi korban di muka persidangan,” ujar Ketua Majelis.

Vonis yang dijatuhkan majelis hakim lebih ringan dari tuntutan jaksa Sadiyo SH. Jaksa menuntut terdawa dengan pidana penjara selama 18 bulan. Namun jaksa menyebut terdakwa terbukti melakukan penipuan secara berlanjut pada dakwaan pasal pasal 378 jo pasal 65 ayat (1) KUHP.

Penasehat hukum terdakwa, Harsito SH, dan Otong Satyagraha SH, menduga ada sesuatu dengan vonis itu. ”Sebenarnya majelis berencana memutus hari Kamis lalu (14/12/2017), tapi hakim meminta untuk bermusyawarah dahulu. Tapi kami tetap menghargai independensi hakim,” ungkap Harsito.

Harsito menilai, hakim mengesampingkan pembelaan terdakwa dengan mengadili diri sendiri. ”Hakim juga mengesampingkan tuntutan jaksa, hakim mengadili diri sendiri. Kami masih pikir-pikir,” ujarnya.

Dalam  dakwaan, jaksa Sadiyo SH ternyata tidak hanya terdakwa Johan Salim, warga Kalideres, Jakarta Barat ini dengan pasal 378 KUHP jo 65 ayat (1) KUHP. Jaksa justru mendakwa dengan pasal berlapis termasuk pasal 372 jo Pasal 65 ayat (1) KUHP.

Kasus bermula dari tindakan terdakwa selaku Direktur PT Merapi Mas Abadi memesan lembaran kaca bening polos bentuk kepada Hariyoso pada Juni hingga September 2006. Sesuai perjanjian, pembayaran akan dilakukan mundur dengan menggunakan Bilyet Giro (BG).

Saksi lalu memerintahkan karyawannya, Pramono, untuk mengantarkan pesanan senilai Rp262 juta lebih tersebut ke PT Merapi Mas Abadi namun belakangan diketahui BG sebagai alat pembayaran ternyata kosong.

Tindakan ini diulangi saat memesan 6.000 lembar triplek kepada saksi korban Vera Orchidlia, pemilik Toko Besi Berkah di Jalan Monjali Sleman pada bulan Juli–Oktober 2006, Total barang senilai Rp259 juta lebih. Namun terdakwa memberikan BG sebagai alat pembayaran dan tidak bisa dicairkan . Terdakwa kemudian dilaporkan ke Polda DIY. KMP2

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Johan Salim Divonis 10 Bulan Penjara, Pengacara Curigai Ada Sesuatu"

Posting Komentar