USD Ingin Tetap Eksis Di Tengah Perubahan Dunia


SLEMAN (KMP) - Universitas Sanata Dharma (USD) dalam usianya yang ke-62 tahun ini ingin terus menjaga eksistensinya sebagai lembaga pendidikan berkualitas. Hal tersebut dinilai perlu terus diupayakan mengingat beragam perubahan dunia terus terjadi.

Rektor USD Johanes Eka Priyatma MSc PhD dalam pidatonya pada Puncak Perayaan Dies Natalis ke-62 USD, Jumat (15/12/2017) di Auditorium USD mengatakan, tema Dies Natalis USD tahun ini ialah 'Tantangan Peradaban dan Peran Universitas'. Tema itu dipilih sebagai tanggapan universitas terhadap pesatnya dinamika peradaban yang selama 5-10 tahun terakhir memicu pergolakan di berbagai tingkatan.

"Salah satu yang menonjol adalah maraknya radikalisme yang mengusik sendi-sendi relasi sosial. Yang kedua adalah maraknya populisme yang dengan mudah berkembang memakai wahana jejaring sosial sampai-sampai hoaks seolah menjadi kebenaran. Beberapa pemikir malah sudah melontarkan akan hadirnya era post-truth yang tentu sulit kita bayangkan implikasinya bagi berkembangnya martabat masyarakat," ungkapnya.

Menurut Eka, salah satu pemicu munculnya tantangan peradaban tersebut adalah semakin besarnya peran teknologi digital yang memiliki kecerdasan buatan. Memakai model Matematika tertentu seperti jaringan syarat tiruan (artificial neural network), sistem-sistem komputer semakin mampu meniru kemampuan otak manusia menyelesaikan persoalan kompleks semi terstruktur seperti mengenali tulisan tangan, menerjemahkan kalimat, serta mengenali suara seseorang.

"Teknologi ini memunculkan berbagai peluang baru yang mengakibatkan perubahan yang bersifat disruptif di berbagai bidang. Salah satu bidang yang sangat terpengaruh adalah bidang jasa transportasi, perdagangan ritel, serta keagenan berbagai barang dan jasa seperti hotel dan penerbangan," imbuhnya.

Diungkapkan Eka, selanjutnya trilogi dari perkembangan teknologi informasi yakni konverjensi, disintermediasi dan globalisasi masih akan terus mengusik berbagai tatanan masyarakat yang selama ini mapan. Tatanan masyarakat pun diubah menjadi tatanan baru yang meskipun memberi banyak manfaat dan kemudahan, tapi juga menciptakan banyak korban.

"Pergulatan tema dies natalis ini menjadi semakin intensif karena juga menjadi pergulatan dalam menyusun rencana strategis yang baru. Pergulatan menyikapi dan mengantisipasi perkembangan peradaban ini pada akhirnya juga memberikan tekanan kepada kita semua yang menghidupi misi universtas yakni mendidik generasi muda meraih keberhasilan hidup di masa depan," jelasnya.

Eka pun menegaskan, segenap sivitas akademika USD harus berpikir keras bagaimana membuat tanggapan yang tepat agar perguruan tinggi yang menghasilkan teknologi hebat ini dapat membantu masyarakat dan dirinya sendiri menghadapi perubahan yang sering memicu berbagai krisis. "Tentu kita harus mulai berpikir apa yang sebaiknya dilakukan universitas untuk menata ulang cara bertindaknya ketika anak-anak muda sudah dapat belajar mandiri lewat sistem internet yang telah menyediakan hampir segala pengetahuan," katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Dosen Fakultas Psikologi USD YB Cahya Widiyanto PhD pun berorasi ilmiah dengan judul 'Krisis Psikologi dan Psikologi Kritis'. Dikatakan Cahya, kontekstualisasi teori psikologi senantiasa menjadi tantangan inspiratif. Beruntung pada perubahan dan perkembangan psikologi di Indonesia tidak terlalu penting memisahkan problema teoritis dan problema praktis.

"Semangat membumikan psikologi menjadi sebuah gerakan dalam ilmu psikologi sendiri. Dan bagi sivitas akademika, ruang akademis, yakni pengajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat menjadi saluran penting memulai transformasi psikologi," ungkapnya. (Ratih Keswara)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "USD Ingin Tetap Eksis Di Tengah Perubahan Dunia"

Posting Komentar