Forpi: Terapkan Whistle Blower System di Lingkungan Pemkot


YOGYA (KMP) – Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang dilakukan Tim Saber Pungli Polda DIY terhadap oknum pegawai Pemkot Yogyakarta pada Dinas Lingkungan Hidup (DLH), IA, menjadi noda serius. Apalagi, oknum yang terkena OTT berstatus tenaga bantuan (naban).

Merespons hal itu, Forum Pemantau Independen (Forpi) Kota Yogyakarta mendorong Pemkot menerapkan whistle blower system di lingkungan Pemkot. Dengan begitu, seluruh ASN maupun naban dapat berperan sebagai whistle blower.

“Whistle Blower  diatur dalam Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) Nomor 4 tahun 2011 tentang Perlakuan Bagi Pelapor Tindak Pidana Korupsi,” ucap Baharudin Kamba, anggota Forpi bidang pemantauan dan investigasi, seperti dilansir Wartahukum.id.

Whistle blower adalah pihak yang mengetahui dan melaporkan tindak pidana tertentu termasuk korupsi dan bukan merupakan bagian dari pelaku kejahatan yang dilaporkannya. Whistle blower system bertujuan menumbuhkan partisipasi publik dalam mengungkap suatau tindak pidana korupsi. 

“Whistle blower atau saksi pelapor tidak dapat dituntut secara hukum baik pidana mupun perdata atas laporan, kesaksian yang akan, sedang atau yang telah diberikan,” terangnya.

Selain mendorong Pemkot menerapkan whistle blower system, Forpi juga mendorong tersangka IA untuk dapat menjadi justice collabolator. Dengan catatan, IA memiliki informasi penting untuk mengungkap kasus korupsi yang sesungguhnya atau keterlibatan pihak lain.

Kemudian, tersangka IA mau bekerjasama dengan penegak hukum. Lalu tersangka IA juga mengakui perbuatan tindak pidana korupsi dan bersedia mengembalikan uang yang dikorupsi. “Perbuatan tersangka selain menciderai pelayanan publik juga telah merusak sendi-sendi pakta integritas yang susah payah diperjuangkan agar pelayanan publik lebih baik,” paparnya.

OTT dilakukan Tim Saber Pungli Polda DIY Pada Kamis (18/1/2018) malam. OTT terkait dengan pengurusan Izin Mendidirikan Bangunan (IMB) dan In Gang di kantor DLH Kota Yogyakarta. Tersangka IA sendiri bertugas di Seksi Pengendalian dan Perencanaan.


IA diciduk di sebuah kafe dikawasan jalan Ipda Tut Harsono, Timoho, Kota Yogyakarta. Tersangka menjanjikan pengurusan IMB dan in gang dengan imbalan sejumlah uang. Namun, dalam perjalanan waktu, pelaku tidak bisa menyelesaikan dengan alasan masih ada persyaratan yang harus dilengkapi. Padahal, pelaku disebut telah menerima uang Rp12,5 juta dan Rp15 juta. Sodik 

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Forpi: Terapkan Whistle Blower System di Lingkungan Pemkot"

Posting Komentar