Masyarakat Justru Sering Terabaikan dalam Pengembangan Desa Wisata



SLEMAN (KMP) - Perkembangan desa wisata di Indonesia tampak sangat pesat sejak 2009 lalu. Sayangnya, masyarakat yang bertindak sebagai subjek sekaligus objek desa wisata justru seringkali kurang dilibatkan.

Data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menunjukkan pada 2009 terdapat 144 desa wisata. Namun kini, Indonesia memiliki 978 desa wisata yang menawarkan berbagai macam tipe wisata, dimana mayoritas adalah wisata alam.

"Perintisan desa wisata sejak awal memang untuk lebih memberdayakan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa. Sayangnya, dalam proses pembuatan hingga pelaksanaan desa wisata justru masyarakat sering kali terabaikan. Belum lagi dampak negatif lainnya seperti mengesampingkan kondisi ekosistem," ujar mahasiswa Magister Teknik Industri Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri UII Ahmad Padhil.

Ditemui di kampus setempat pada Jumat (26/01/2018), Padhil menuturkan, pemerintah Indonesia saat ini tengah mengembangkan program pariwisata gerakan 1.000 desa wisata. Dalam pembangunan desa wisata, ia tidak ingin terjadi pergeseran kearifan lokal, tersingkirnya masyarakat, hingga terganggunya ekosistem alam.

"Karena itulah saya melakukan penelitian desa wisata pada Juni-November 2017 lalu. Saya pun mencoba menggunakan pendekatan sosio teknik untuk mengatasi persoalan terkait desa wisata. Tujuannya agar desa wisata yang tengah atau akan dibangun memiliki keberlanjutan, hingga masyarakat kita sendiri yang menuai keuntungannya," imbuhnya.

Mengusung judul penelitian 'Pengembangan Desa Wisata dengan Pendekatan Makro Ergonomi', Padhil mencoba mengumpulkan data persoalan desa wisata dengan pendekatan Kansai Engineering dan Macro Ergonomis Analysis Design. Dari situlah ia mengetahui kurang dilibatkannya masyarakat dalam rencana maupun keberlangsungan desa wisata.

"Banyak masyarakat yang mengaku tidak ikut dilibatkan. Para pengembang atau investor seringkali bergerak sendiri dengan konsep mereka. Salah satu bukti kurang terlibatnya masyarakat ialah adanya pembangunan-pembangunan baru di lokasi desa wisata. Padahal seharusnya pengembangan desa wisata cukup mengandalkan keaslian desa," paparnya.

Meski hanya melakukan penelitian di Desa Gunung Condong, Purworejo, Jawa Tengah, Padhil dapat memastikan hal yang sama rata-ata terjadi di kebanyakan desa wisata di Indonesia. Karena kurangnga partisipasi masyarakat desa sendiri yang menjadi alasan cukup banyak desa wisata pada akhirnya mandeg.

"Dari hasil penelitian saya ini, saya mengusulkan agar dilakukan perubahan Standart Operational Process (SOP) dalam pengembangan desa wisata. Akan sangat baik jika sebelum pembangunan dilakukan dulu diskusi dengan masyarakat. Ini agar aspirasi masyarakat terwakili guba menjaga kearifan lokal. Karena berdirinya desa wisata selama ini justru menggeser kearifan lokal masyarakat," ungkapnya.

Padhil pun mengusulkan adanya perubahan kelembagaan pengelolaan, bisa dengan memberdayakan karang taruna atau menghidupkan lagi lembaga ketahanan masyarakat desa. Ia pun berharap dilakukan penerapan aturan budaya lokal untuk menjaga tidak tereduksinya budaya lokal akibat arus wisatawan yang masuk. (Ratih Keswara)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Masyarakat Justru Sering Terabaikan dalam Pengembangan Desa Wisata"

Posting Komentar