Mahasiswa UAD Syiar Islam Lewat Pertunjukan Wayang


BANTUL (KMP) - Pertunjukan wayang di wilayah Yogyakarta memang bukan hal baru. Namun dengan bakat dan minatnya, seorang mahasiswa Pendidikan Agama Islam Universitas Ahmad Dahlan (UAD) memanfaatkan wayang sebagai sarana penyebaran pengetahuan agama.

Ia adalah Teguh Santoso DS atau yang lebih dikenal dengan julukan Ki Anom Teguh Purwocarito,21. Ditemui sebelum menggelar pentas wayang dalam rangka Milad UAD ke-57 di Kampus 4 UAD, Sabtu (10/02/2018), Teguh mengungkapkan, kecintaannya terhadap dunia pewayangan sudah tumbuh sejak masih duduk di kelas 5 SD.

"Waktu itu saya sering diajak kakek nonton pertunjukan wayang di tempat asal saya Pulanharjo, Klaten, Jawa Tengah. Dari situ saya punya ketertarikan dan berniat belajar mendalang. Proses pendalaman pun terus saya lakukan hingga berlanjut ketika saya masuk Pondok Pesantren Al Maa'uun di Tegallayang, Caturharjo, Pandak, Bantul," ujarnya.

Teguh mengatakan, bakatnya di dunia pedalangan pun semakin terasah di Ponpes karena ia mendapat dukungan penuh. Ia pun mulai mendapat permintaan menggelar pertunjukan wayang untuk wilayah Yogyakarta. Tak ingin menyia-yiakan bakatnya, Teguh berpikir untuk menggunakan media wayang sebagai hiburan sekaligus syiar agama Islam.

"Niat saya berbagi ilmu dan menyebarkan agama Islam lewat pertunjukan wayang. Saya juga menganggap ini upaya saya melanjutkan jejak para Wali Songo, terutama Sunan Kalijaga yang menggunakan media budaya dalam menyebarkan Islam," imbuh pria kelahiran 13 Juni 1997 ini.

Diungkapkan Teguh, mendalang dipelajarinya secara otodidak. Untuk meningkatkan kemampuannya, ia sering menonton pertunjukan wayang para dalang terkenal. Diakuinya, Ki Hadi Sugito dan Ki Suparman merupakan dalang idolanya.

Dalam peringatan Milad UAD kali ini, Teguh akan membawakan lakon "Semar Mbangun Kahyangan". Dikatakan Teguh, inti dari cerita tersebut ialah tokoh Punakawan, Semar memiliki keinginan membangun kayangan. Namun sebenarnya Semar tidak membangun kayangan dalam arti yang sesungguhnya.

"Maksud Semar ialah ia ingin membangun hati para Pandawa. Karena menurut Semar ada yang kurang di hati kelima anak Pandu tersebut. Imane kurang cara Islamnya, kudu dituturi babakan agama. Dalam cerita juga ada Prabu Kresna yang dilanda kemendungan, nggawe salah tompo. Padahal dia Ratu," papar mahasiswa angkatan 2014 ini.

Dalam hal ini, Teguh memberikan sindiran-sindiran dan pembelajaran bagi penontonnya jika pemimpin pun bisa salah. Namun, namanya pemimpin harus bisa memberi contoh baik pada masyarakatnya, tidak mengingkari janji dan selalu berupaya bekerja demi kesejahteraan masyarakatnya.

Sementara itu, Rektor UAD Dr Kasiyarno MHum menuturkan, selama ini UAD selalu mendukung berbagai kegiatan maupun upaya pengembangan seni di kampus. Baik itu seni tradisional maupun modern. Apalagi jika seni tersebut digunakan sebagai media dakwah, seperti yang dilakukan Teguh.

"Wayang sendiri sebagai sebuah seni sudah mulai ditinggalkan. Karenanya kami mengupayakan dengam menggelar pertunjukan wayang agar selain bisa menghibur masyarakat sekitar, juga bisa turut melestarikan wayang. Wayang seakan mulai ditinggalkan, padahal cara ini cukup efektif untuk dimanfaatkan sebagai media dakwah," imbuhnya. (Ratih Keswara)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Mahasiswa UAD Syiar Islam Lewat Pertunjukan Wayang"

Posting Komentar