Ada Kejanggalan dalam Sidang Roden Hengkeng di PN Sleman, Begini Detilnya


Kamal Firdaus SH (tengah) mengungkap kejanggalan dalam sidang di PN Sleman dengan terdakwa Roden Hengkeng. Diduga ada rekayasa dalam penanganan kasus tersebut. Foto: Ist

Kabarmerahputih.net – Keajaiban terjadi di Pengadilan Negeri (PN) Sleman.  Di pengadilan Kelas I A ini, seorang terdakwa mendapat tiga dakwaan yang berbeda dalam satu perkara. Yang mencengangkan lagi, terdakwa yang bernama Roden Hengkeng Naung Tonggembio juga mendapat 3 tuntutan yang berbeda.

Celakanya, perkara ini merupakan perkara yang dilaporkan balik dengan pengaduan palsu dan fitnah. Padahal, perkara yang dilaporkan terdakwa hingga kini belum pernah diproses di pengadilan.

Kamal Firdaus SH, salah satu penasehat hukum terdakwa mengungkapkan, yang terjadi di PN Sleman merupakan sebuah kejaiban. Selama 40 tahun berprofesi sebagai advokat, ia mengaku belum pernah menemukan kasus seperti ini. Terlebih, proses persidangan berlangsung cukup lama mencapai satu tahun.

“Ini keajaiban dan baru pertama terjadi selama 40 tahun saya jadi lawyer. Belum pernah mengalami juga persidangan berlangsung satu tahun, sesuatu yang jarang terjadi. Ini keajaiban dalam perkaranya Roden,” ucap Kamal didampingi Richard Riwu SH, dan Awang Guntoro SH seperti dilansir wartahukum.id.

Kamal mengungkapkan, adanya tiga surat dakwaan dan tiga tuntutan berbeda dalam satu perkara yang sama dengan terdakwa Roden Hengkeng merupakan sebuah kejanggalan. Hal ini dipertegas dengan pendapat dua ahli hukum pidana yakni Prof Markus Priyo Gunarto dan Prof Edward omar Syarif.

“Keduanya menganggap adanya 3 surat dakwaan dalam satu perkara belum pernah terjadi. Keduanya belum pernah menemukan kasus seperti ini. Tidak hanya dakwaannya yang lebih dari satu, tuntutannya juga lebih dari satu,” terangnya.

Robert Riwu SH mengungkapkan, dugaan rekayasa dalam perkara yang menyeret kliennya terungkap dalam surat dakwaan. Dalam surat dakwaan pertama dengan nomor register 51 tanggal 20 Juli 2017 terdapat dua terdakwa yakni Roden Hengkeng dan Mark Christoper Robba.

Pada 31 Juli, perkara mulai disidangkan namun terdakwa tidak pernah diberitahu, sehingga sidang ditunda tanggal 7 Agustus dan ditunda lagi tanggal 14 Agustus. Penasehat hukum mengajukan eksepsi pada tanggal 30 Agustus dan ditanggapi (repliek) tanggal 6 September 2017.

Kemudian pada 13 September 2017, saat hakim akan membacakan putusan sela, JPU mengganti surat dakwaan lama dengan dakwaan yang baru di mana tanggal, bulan, dan isinya berbeda. Tak hanya itu, terdakwa yang semula dua orang diubah menjadi satu orang. Mark Christopher dijadikan sebagai saksi.

“Setelah dicocokkan dua surat dakwaan ini, ternyata yang dipegang majelis hakim juga berbeda dengan surat dakwaan yang kami pegang dan dipegang JPU. Nomor register di majelis hakim berbeda, isi berbeda, tanggal bulan juga berbeda. Isi 100 persen beda,” bebernya.

Tidak cukup hanya di situ, JPU kembali mengulangi perbuatannya pada surat tuntutan. Surat tuntutan yang diberikan kepada kuasa hukum terdakwa, majelis hakim, dan surat tuntutan yang dipegang sendiri oleh JPU, semuanya berbeda.

“Kami tidak hanya membela klien kami tapi juga bangsa ini, karena dugaan pemalsuan akta otentik oleh terlapor berkaitan dengan pajak. kami sudah melakukan penelusuran dan hasilnya banyak berbedaan data,” terangnya. Terdakwa dijerat dengan pasal 220 KUHP dengan tuntutan 10 tahun penjara. (*)



Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Ada Kejanggalan dalam Sidang Roden Hengkeng di PN Sleman, Begini Detilnya"

Posting Komentar