Paku Alam X: Damai Bukan Sekadar Tanpa Perang



Kabarmerahputih.net - Perdamaian merupakan tujuan perubahan sosial berjangka panjang yang lebih menekankan rekonstruksi struktur damai dalam masyarakat. Damai bukanlah semata-mata ketiadaan perang, tapi sesuatu keadaan dinamis, partisipatif, dan berjangka panjang.

Hal ini diungkapkan Wakil Gubernur DIY Sri Paduka Paku Alam X dalam pembukaan The 1st International Conference On Local Wisdom (INCOLWIS 2018) di Rektorat UNY, Kamis (09/08). Paku Alam X mengatakan, kondisi damai harusnya didasarkan pada nilai-nilai universal di segala level praktis keseharian, seperti keluarga, sekolah, komunitas dan negara.

Damai bukan sekadar ketiadaan konflik dan kekerasan, melainkan adanya keadilan, hukum, dan ketertiban. Damai jangka panjang atau yang biasa disebut damai positif di sini memiliki ciri-ciri mempromosikan keadilan, kepercayaan dan empati, serta menekankan kerjasama dan dialog,” ujarnya.

Dikatakan Paku Alam X, belajar mengenai perdamaian dapat dilakukan di Yogyakarta. Menurutnya, Yogyakarta layak menjadi model kota perdamaian di Indonesia, bahkan di dunia. Ini dikarenakan Yogyakarta dikenal sebagai kota yang memiliki keragaman. Semua jenis etnis, agama, dan paham mulai dari yang paling kiri hingga yang paling kanan ada di Yogyakarta.

Salah satu keanekaragaman penduduk Yogyakarta terlihat di kalangan pelajar dan mahasiswa  yang berasal dari berbagai daerah. Di kawasan Kotabaru pun bangunan Masjid Syuhada, Gereja Kristen HKBP, dan Gereja Katolik saling berdekatan. Hal ini membayangkan suasana kehidupan beragama yang penuh toleransi hingga para pemuka lintas agama dunia menyebut Yogyakarta layak menyandang City of Tolerance,” paparnya.

Paku Alam X pun menambahkan, merawat perdamaian saat ini merupakan salah satu tantangan utama pada era global. Kemajemukan di dunia terancam oleh masih terus berlangsungnya diskriminasi dan kekerasan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, masyarakat Yogyakarta sejauh ini lebih mengedepankan pendekatan akademis daripada non akademis ketika menghadapi persoalan yang terkait toleransi kehidupan yang majemuk.

Yogyakarta dapat menjaga perdamaian dengan baik karena tiga hal yakni, peran Kraton sangat kuat dan masih eksis sebagai center of culture, masyarakat Yogyakarta merupakan masyarakat terdidik yang lebih mudah memahami dengan baik dan tidak mudah terprovokasi. Selain itu, karena komunikasi yang baik antar warga dan para pemangku kepentingan yang ada di Yogyakarta,” jelasnya.

Sementara itu, Rektor UNY Prof. Dr. Sutrisna Wibawa, M.Pd mengatakan, kearifan lokal kini dianggap sebagai alternatif penting untuk membangun harmoni antara alam, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Di era dimana volatilitas menciptakan tingkat ketidakpastian yang tinggi, pemahaman komprehensif yang baik tentang kebijakan-kebijakan pun telah terbukti efektif guna menghadapi perkembangan teknologi yang pesat.

Banyak penelitian telah mengalokasikan upaya untuk membangun pemahaman, yang diharapkan bisa saling menguntungkan, di antara anggota masyarakat. Namun, kekhawatiran tentang sedikit dan kurangnya pemahaman tentang kearifan lokal tampaknya ada di banyak masyarakat di seluruh dunia,” paparnya.

INCOLWIS 2018 sendiri merupakan ajang berkumpul peneliti, pakar, dan praktisi kearifan lokal untuk duduk bersama berbagi pandangan dan wawasan. INCOLWIS 2018 adalah salah satu konferensi internasional dari 28 konferensi internasional yang diadakan di UNY tahun ini. Semua konferensi tersebut mencerminkan komitmen UNY untuk berkontribusi lebih banyak pada pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan masyarakat,” imbuhnya. (Ratih Keswara)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Paku Alam X: Damai Bukan Sekadar Tanpa Perang"

Posting Komentar