Langgar Hak Siar PD 2014, 4 Hotel Kembali Digugat ke Pengadilan


Wahyu Priyanka dan tim hukumnya bersama Tubagus Aria saat jumpa pers di d'Barrack Cafe Timoho, Jumat siang.

KABARMERAHPUTIH.NET – Perkara pelanggaran hak siar Piala Dunia 2014 masih belum tuntas. Banyaknya hotel yang divonis bersalah, ternyata belum bisa menggugah pelanggar lain legowo mengakui kesalahannya sehingga harus berujung dengan gugatan di pengadilan.

Mengawali tahun 2019, PT Inter Sport Marketing (ISM)/PT Nonbar kembali melayangkan gugatan perbuatan melawan hukum dang anti rugi terhadap empat hotel di DIY. Gugatan dilayangkan lantaran keempat hotel itu telah melanggar hak cipta dengan menayangkan siaran Piala Dunia 2014 tanpa izin.

Keempat hotel yang digugat di Pengadilan Niaga Semarang adalah Dermaga Hotel (PT Tri Sekar Lestari), UNY Hotel (CV Multi), Ameera Boutique Hotel (PT Wijaya Karya Mandiri), dan Grand Tjokro Hotel (PT Setia Abadi Sentosa).

“Keempat hotel itu  di area komersil telah memanfaatkan dan menayangkan siaran Piala Dunia 2014 tanpa izin dari klien kami PT ISM atau PT Nonbar yang telah ditunjuk oleh PT ISM,” ucap Kuasa Hukum PT ISM/PT Nonbar Wahyu Priyanka Nata Permana SH MH didampingi Kurnia Budi Nugroho SH dan Deslaely Putranti SH MH, Jumat (8/2/2019) siang.

Namun demikian, ungkap Wahyu Priyanka, dalam perjalanannya salah satu hotel yakni Ameera Boutique Hotel memilih berdamai. Perdamaian dicapai pada Kamis (7/2/2019) dan gugatan terhadap Ameera Boutique Hotel akan dicabut Senin (11/2/2019).

Sementara itu, proses persidangan terhadap ketiga hotel lain masih terus berjalan. Bahkan untuk Hotel UNY, sudah masuk pada proses pembuktian di persidangan. “Dua lainnya masih jawab menjawab. Yang UNY sudah pembuktian,” terangnya lagi.

Dia menjelaskan, secara keseluruhan pihaknya telah memenangkan 11 perkara pelanggaran hak cipta yang dilakukan hotel berbintang di wilayah DIY-Jawa Tengah. Dari jumla itu, 2 di antaranya sudah melaksanakan putusan pengadilan, satu hotel yakni Griya Persada memilih berdamai di muka persidangan, sedangkan lainnya proses kasasi.

“Rata-rata kena Rp 1 miliar. Di Yogya ada Grand Zuri, Hotel Merapi Merbabu, Hotel Rose In, ada Citihub Hotel, Cakra Kusuma, dan Grand Quality. Kenapa kami mengajukan gugatan dan laporan, karena ada pihak yang memberi lisensi sehingga kalau tidak ada penegakan hukum klien kami dikomplain. Sudah beli mahal kok didiamkan,” katanya.

Tubagus Aria, manager regional PT Nonbar mengatakan, meski sudah melayangkan gugatan ke pengadilan namun pihaknya tetap terbuka untuk proses damai, termasuk bagi hotel yang belum didugat namun pernah mendapat somasi karena melakukan pelanggaran hak cipta atas konten siaran Piala Dunia 2014.

“Dulu mereka selalu beralasan dan mempertanyakan legal standing, sekarang semua gugatan kami menangkan, mau alasan apa lagi. Kami ingatkan yang sudah pernah disomasi tapi belum tercapai kesepakatan, kami masih membuka pintu damai,” tambahnya.

Pelanggaran hak siar Piala Dnia 2014 pertama kali diperkarakan pada 2014 silam. Gugatan awal dilayangkan terjadap dua hotel, kemudian di tahun 2017 ada 4 perkara, dan di 2018 ada 5 perkara di mana salah satunya berakhir damai. Tahun 2019 ini kembali diproses 4 perkara.

“Kalau ditotal, kami ini memecahkan rekor menangkan gugatan HAKI terbanyak di Indonesia. Di Pengadilan Niaga Semarang ada 15 perkara yang kami ajukan, dan di Surabaya ada 25-an perkara,” sambung Wahyu Priyanka. (KMP001)


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Langgar Hak Siar PD 2014, 4 Hotel Kembali Digugat ke Pengadilan"

Posting Komentar